Rabu, 21 Desember 2011

KISAH Abu jahal

Kisah Abu lahab dan Ummu jamil
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Nabi memiliki paman yang salah satunya bernama Abu Lahab. Ia dinamakan “lahab” (bara api, gejolak api) karena wajahnya kemerah-merahan seperti bara api. Ia adalah salah satu orang yang sangat memusuhi Nabi.
Tiap hari/hampir tiap hari ia mengikuti Nabi dari belakang, kemudian melemparinya batu, hingga kakinya berdarah. Abu lahab juga meneriakinya pendusta, pembohong, dsb, karena bencinya ia pada Islam. Ini terjadi hampir tiap hari selama bertahun2. Bukan karena Nabi adalah benar2 pembohong, tapi karena bencinya ia pada Islam.
Seluruh masyarakat Makkah, termasuk Abu lahab, justru mengakui Nabi adalah terpercaya/ al amin karena Nabi tidak pernah sekalipun berbohong, walaupun sedikit. Nabi menjadi tempat orang2 menitipkan barang2nya, termasuk orang kafir juga menitipkan barang2 di rumah Nabi. Ini karena Nabi adalah orang yang paling bisa mereka percaya. Walaupun hati mereka kadang terlalu keras untuk menerima Islam.
Dan Allah menjawab perbuatan Abu lahab itu dengan turunnya surat Al lahab. Dikatakan bahwa Abu lahab adalah seorang yang benar2 celaka. Walaupun ia punya banyak harta, punya banyak anak dan keluarga yang siap membantunya, semuanya itu dan semua yang Abu lahab usahakan tidak akan dapat menyelamatkannya dari azab Allah.
Abu lahab meninggal karena penyakit. Ia tidak ikut memerangi Nabi saat perang Badar karena sakitnya itu. Sepulangnya kafirin dari perang Badar dengan membawa kekalahan, sakitnya tambah parah. Dan ia akhirnya meninggal dengan keadaan sakit yang mengerikan. Diriwayatkan bahwa orang2 kafir, bahkan teman2 dan keluarganya enggan mengurus jenazahnya karena keadaan sakitnya yang menjijikkan dan timbul bau busuk dari penyakitnya. Inilah akhir hidup seorang musuh Allah.
Ummu Jamil adalah istri Abu lahab. Ummu jamil artinya wanita yang cantik. Tapi julukan ini tidak sesuai dengan perilakunya. Ia setali tiga uang dengan suaminya dalam hal memusuhi Nabi. Ia lebih tepat dinamai wanita yang jelek karena perilakunya yang sangat jelek.
Ia seringkali pada malam hari memanggul kayu yang berduri untuk diletakkan di jalan2 yang biasa dilalui Nabi. Sehingga bila Nabi lewat pada malam hari/subuh, Nabi akan terinjak kayu yang berduri itu sehingga Nabi terluka. Ummu jamil senang kalau Nabi terluka karena menginjak kayu berduri.
Ummu jamil juga suka mengadu domba dan memfitnah supaya orang2 Makkah membenci Nabi. Karena hal ini, ia dijuluki pembawa kayu bakar. Karena ia suka “membakar” emosi, mengadu domba, dan menimbulkan kebencian orang2 Makkah pada Islam.
Saat membawa kayu, ia mengikatnya dan melilitkan sebagian talinya pada lehernya. Inilah kebiasaan yang dilakukannya saat membawa kayu berduri untuk mencelakai Nabi. Perilaku buruk inilah yang akhirnya membawanya menemui ajalnya. Ummu jamil meninggal karena tercekik tali yang digunakannya untuk membawa kayu. Kelak di akhirat, ia akan disiksa juga dengan tali. Dinyatakan oleh Allah bahwa di neraka, leher Ummu jamil diikat dengan tali dari api neraka jahannam.
Hal2 di atas diterangkan oleh Allah dalam surat Al lahab. Salah satu surat pendek dalam Al Quran. Surat ini menunjukkan mukjizat Al Quran, karena dengan tepat memprediksi hal2 yang belum terjadi saat surat ini diturunkan. Telah dinyatakan bahwa Abu lahab dan istrinya termasuk seorang yang celaka. Maka memang sampai akhir hayatnya, mereka tidak pernah beriman kepada Allah dan Rasulullah baik iman secara terang2an maupun sembunyi2, baik zhohir maupin batin, meskipun Rasul selalu mengajak mereka untuk beriman.
Saat surat ini turun, Ummu jamil marah2 karena merasa terhina. Ia mendatangi Abu Bakar dan menanyakan di manakah temannya Abu Bakar (Rasulullah Muhammad saw). Ummu jamil marah2 di depan Abu Bakar sambil membawa batu dan mengancam2 akan melakukan berbagai hal buruk pada Nabi.
Ummu jamil menanyakan di manakah Muhammad, padahal saat itu Nabi sedang duduk tepat di samping Abu Bakar. Ummu jamil tidak dapat melihat Nabi karena penglihatannya ditutup oleh Allah sehingga ia hanya melihat Abu Bakar. Padahal Nabi sedang duduk di samping Abu Bakar. Abu bakar karena herannya dengan pertanyaan itu, maka Abu bakar bertanya apakah Ummu jamil hanya dapat melihat Abu Bakar dan tidak melihat orang lain di sampingnya? Maka Ummu jamil merasa diolok2 oleh Abu bakar seraya menjawab “Apakah engkau bermaksud menghinaku? Aku tidak melihat siapa2 selain kau!” Inilah salah satu mukjizat Nabi. Adalah mudah sekali bagi Allah melakukan hal ini.
Inilah yang seharusnya diambil pelajaran oleh orang mukmin. Bergantung pada Allah dan bukan pada sebab2 duniawi. Orang mukmin berikhtiar sesuai dengan sebab2 duniawi. Tapi hatinya tidak bergantung pada sebab2 duniawi itu. Mereka hanya menjadikannya sebagai ikhtiar, sedangkan hatinya tertaut kepada Allah. Boleh jadi Allah memberikan jalan keluar lewat ikhtiar itu, tapi boleh jadi juga Allah menjadikan jalan keluar melalui hal lain yang sepintas tidak masuk akal.
Mukmin tidak minder karena kurangnya harta benda, kurangnya teknologi, kurangnya alat2. Mukmin berikhtiar dengan harta, dengan alat, teknologi, dsb, tapi sepenuhnya percaya bahwa faktor utama keberhasilan bukanlah itu semua, tapi kedekatan dengan Allah.
Bila mukmin dekat dengan Allah, ia akan dekat dengan pertolongan Allah. Walaupun tidak memiliki sarana apapun, ia akan menang karena Allah tidak dapat dihalangi. Allah mampu menutup pandangan mata siapapun, satelit secanggih apapun.
Bila melupakan Allah, maka kedudukannya setara dengan orang kafir. Maka yang menang adalah siapa yang lebih kuat.
Surat Al Lahab (nama lainnya: surat Al Masad) mengisahkan paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang betul-betul memusuhi beliau yaitu Abu Lahab. Nama asli beliau adalah Abdul ‘Uzza bin ‘Abdil Mutholib. Nama kunyahnya adalah Abu ‘Utaibah. Namun beliau lebih dikenal dengan Abu Lahab, karena wajahnya yang memerah (makna lahab: api yang bergejolak). Beliau lah yang paling banyak menentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga Allah Ta’ala membicarakan Abu Lahab dalam satu surat.
Berikut beberapa pelajaran tafsir yang kami gali dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim (karya Ibnu Katsir) dan kami tambahkan faedah dari kitab tafsir lainnya. Semoga manfaat.
Allah Ta’ala berfirman,
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.  Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al Lahab: 1-5)
Sebab Turunnya Ayat
Mengenai asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat ini diterangkan dalam riwayat berikut:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَصَعِدَ إِلَى الْجَبَلِ فَنَادَى يَا صَبَاحَاهْ فَاجْتَمَعَتْ إِلَيْهِ قُرَيْشٌ فَقَالَ أَرَأَيْتُمْ إِنْ حَدَّثْتُكُمْ أَنَّ الْعَدُوَّ مُصَبِّحُكُمْ أَوْ مُمَسِّيكُمْ أَكُنْتُمْ تُصَدِّقُونِي قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ أَلِهَذَا جَمَعْتَنَا تَبًّا لَكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ إِلَى آخِرِهَا
“Dari Ibnu Abbas bahwa suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menuju Bathha`, kemudian beliau naik ke bukit seraya berseru, "Wahai sekalian manusia." Maka orang-orang Quraisy pun berkumpul. Kemudian beliau bertanya, "Bagaimana, sekiranya aku mengabarkan kepada kalian, bahwa musuh (di balik bukit ini) akan segera menyergap kalian, apakah kalian akan membenarkanku?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda lagi, "Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian. Sesungguhnya di hadapanku akan ada adzab yang pedih." Akhirnya Abu Lahab pun berkata, "Apakah hanya karena itu kamu mengumpulkan kami? Sungguh kecelakanlah bagimu." Maka Allah menurunkan firman-Nya: "TABBAT YADAA ABII LAHAB.." Hingga akhir ayat.” (HR. Bukhari no. 4972 dan Muslim no. 208)
Tafsir Ayat
Ayat (تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ), yaitu binasalah kedua tangan Abu Lahab, menunjukkan do’a kejelekan padanya. Sedangkan ayat (وَتَبَّ), yaitu sungguh dia akan binasa, menunjukkan kalimat berita.
Firman Allah Ta’ala (تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ), maksudnya adalah sungguh Abu Lahab merugi, putus harapan, amalan dan usahanya sia-sia. Sedangkan makna (وَتَبَّ), maksudnya adalah kerugian dan kebinasaan akan terlaksana.
Firman Allah Ta’ala (مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ), yang dimaksud (وَمَا كَسَبَ) yaitu apa yang ia usahakan adalah anaknya.
Firman Allah Ta’ala (سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ), yaitu kelak Abu Lahab akan mendapat balasan yang jelek dan akan disiksa dengan api yang bergejolak, sehingga ia akan terbakar dengan api yang amat panas.
Firman Allah Ta’ala (وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ), istri Abu Lahab biasa memikul kayu bakar. Istri Abu Lahab bernama Ummu Jamil, salah seorang pembesar wanita Quraisy. Nama asli beliau adalah Arwa binti Harb bin Umayyah. Ummu Jamil ini adalah saudara Abu Sufyan. Ummu Jamil punya kelakuan biasa membantu suaminya dalam kekufuran, penentangan dan pembakangan pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, pada hari kiamat, Ummu Jamil akan membantu menambah siksa Abu Lahab di neraka Jahannam. Oleh karena itu, Allah Ta’ala katakan dalam ayat selanjutnya,
وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)
“Dan (begitu pula) istri Abu Lahab, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” Yaitu istri Abu Lahab akan membawa kayu bakar, lalu ia akan bertemu suaminya Abu Lahab. Lalu ia menambah siksaan Abu Lahab. Dan memang istri Abu Lahab dipersiapkan untuk melakukan hal ini.
Yang dimaksud firman Allah Ta’ala (فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ), yaitu maksudnya di leher Ummu Jamil ada tali sabut dari api neraka. Sebagian ulama memaknakan masad dengan sabut. Ada pula yang mengatakan masad adalah rantai yang panjangnya 70 hasta. Ats Tsauri mengatakan bahwa masad adalah kalung dari api yang panjangnya 70 hasta.
Tafsiran Istri Abu Lahab Pembawa Kayu Bakar
Di sini ada beberapa tafsiran ulama:
Pertama: Mengenai ayat (حَمَّالَةَ الْحَطَبِ), pembawa kayu bakar maksudnya adalah Ummu Jamil adalah wanita sering menyebar namimah, yaitu si A mendengar pembicaraan B tentang C, lantas si A menyampaikan berita si B pada si C dalam rangka adu domba. Ini pendapat sebagian ulama.
Kedua: Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud Ummu Jamil pembawa kayu bakar adalah karena kerjaannya sering meletakkan duri di jalan yang biasa dilewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat yang dipilih Ibnu Jarir Ath Thobari.
Ketiga: Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud (حَمَّالَةَ الْحَطَبِ) adalah Ummu Jamil biasa mengenakan kalung dengan penuh kesombongan. Lantas ia katakan, “Aku aku menginfakkan kalung ini dan hasilnya digunakan untuk memusuhi Muhammad.” Akibatnya, Allah Ta’ala memasangkan tali di lehernya dengan sabut dari api neraka.
Surat Al Lahab adalah Bukti Nubuwwah
Surat ini merupakan mukjizat yang jelas-jelas nampak yang membuktikan benarnya nubuwwah (kenabian), bahwasanya betul-betul beliau adalah seorang Nabi. Karena sejak turun firman Allah Ta’ala,
سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)
Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.  Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut”, Abu Lahab dan Ummu Jamil tidaklah beriman sama sekali baik secara zhahir atau batin, dinampakkan atau secara sembunyi-sembunyi. Maka inilah bukti benarnya nubuwwah beliau. Apa yang dikabarkan pada beliau, maka itu benar adanya.
Faedah berharga dari Surat Al Lahab:
  1. Allah telah menetapkan akan kebinasaan Abu Lahab dan membatalkan tipu daya yang ia perbuat pada Rasulnya.
  2. Hubungan kekeluargaan dapat bermanfaat jika itu dibangun di atas keimanan. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Lahab punya kedekatan dalam kekerabatan, namun hal itu tidak bermanfaat bagi Abu Lahab karena ia tidak beriman.
  3. Anak merupakan hasil usaha orang tua sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya anak adalah hasil jerih payah orang tua.” (HR. An Nasai no. 4452, Ibnu Majah no. 2137,  Ahmad 6/31. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini shahih). Jadi apa pun amalan yang dilakukan oleh anak baik shalat, puasa dan amalan lainnya, orang tua pun akan memperoleh hasilnya.
  4. Tidak bermanfaatnya harta dan keturunan bagi orang yang tidak beriman, namun sebenarnya harta dan keturunan dapat membawa manfaat jika seseorang itu beriman.
  5. Api neraka yang bergejolak.
  6. Mendengar berita neraka dan siksaan di dalamnya seharusnya membuat seseorang takut pada Allah dan takut mendurhakai-Nya sehingga ia pun takut akan maksiat.
  7. Bahaya saling tolong menolong dalam kejelekan sebagaimana dapat dilihat dari kisah Ummu Jamil yang membantu suaminya untuk menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  8. Akibat dosa namimah, yaitu menyulut api permusuhan sehingga diancam akan disiksa dengan dikalungkan tali sabut dari api neraka.
  9. Siksaan pedih akibat menyakiti seorang Nabi.
  10. Terlarang menyakiti seorang mukmin secara mutlak.
  11. Setiap Nabi dan orang yang mengajak pada kebaikan pasti akan mendapat cobaan dari orang yang tidak suka pada dakwahnya. Inilah sunnatullah yang mesti dijalani dan butuh kesabaran.
  12. Akibat jelek karena infaq dalam kejelekan dan permusuhan.
  13. Benarnya nubuwwah (kenabian) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  14. Ummu Jamil dan Abu Lahab mati dalam keadaan kafir secara lahir dan batin, mereka akan kekal dalam neraka.
  15. Tidak boleh memakai nama dengan bentuk penghambaan kepada selain Allah, karena Abu Lahab disebut dalam ayat ini tidak menggunakan nama aslinya yaitu Abdul Uzza (hamba Uzza). Padahal Al Qur’an biasa jika menyebut nama orang akan disebut nama aslinya. Maka ini menunjukkan terlarangnya model nama semacam ini karena mengandung penghambaan kepada selain Allah. (Ahkamul Quran, Al Jashshosh, 9/175)
  16. Nama asli (seperti Muhammad) itu lebih mulia daripada nama kunyah (nama dengan Abu ... dan Ummu ...). Alasannya karena dalam ayat ini demi menghinakan Abu Lahab, ia tidak disebut dengan nama aslinya namun dengan nama kunyahnya. Sedangkan para Nabi dalam Al Quran selalu disebut dengan nama aslinya (seperti Muhammad) dan tidak pernah mereka dipanggil dengan nama kunyahnya. (Ahkamul Quran, Ibnul ‘Arobi, 8/145)
  17. Kedudukan mulia yang dimiliki Abu Lahab dan istrinya tidak bermanfaat di akhirat. Ini berarti kedudukan mulia tidak bermanfaat bagi seseorang di akhirat kelak kecuali jika ia memiliki keimanan yang benar.
  18. Imam Asy Syafi’i menyebutkan bahwa pernikahan sesama orang musyrik itu sah, karena dalam ayat ini Ummu Jamil dipanggil dengan “imro-ah” (artinya: istrinya). Berarti pernikahan antara Ummu Jamil dan Abu Lahab yang sama-sama musyrik itu sah.
Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk terus mengkaji Al Quran dan menggali faedah di dalamnya.









Kisah Istri Nabi Luth Menempuh Jalan Kesesatan

Kisah Istri Menempuh Jalan Kesesatan
Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth menjadi perumpamaan bagi orang-orang yang ingkar. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang soleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua isteri itu memohon kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya).” Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”
(At-Tahrim: 10)

Dalam perjalanan hidup seorang nabi, apabila ia mendapati kebenaran yang datang dari Allah, keluarga terdekatnyalah yang terutama mesti ia seru terlebih dahulu. Orang yang paling dekat dengannya tentu saja memperoleh kesempatan paling besar untuk menerima seruannya. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan isteri Nuh dan anaknya. Meskipun keduanya adalah orang-orang yang paling dekat dengan beliau, mereka termasuk golongan yang ingkar akan kebenaran Allah dengan enggan beriman.
Begitu pula wanita yang satu ini, isteri salah seorang dari nabi Allah, yakni isteri Luth as. Luth adalah seorang nabi dan rasul yang diutus oleh Allah kepada kaumnya di Sadom, sebuah negeri besar yang mempunyai banyak kota, sedangkan penduduknya tenggelam dalam arus kemaksiatan. Rakyat Negeri Sadom ketika itu berserikat dan bahu-membahu dalam perbuatan dosa yang mengaibkan.

Nabi Luth diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kaumnya itu, termasuk kepada isterinya sendiri. Berkata Nabi Luth kepada mereka seraya mengingatkan: “Mengapa kamu melakukan perbuatan tercela itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun di dunia ini sebelummu? Kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu, bukan kepada wanita. Bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”
(Al-A’raf:80-81)
Memang, kaum Nabi Luth ketika itu berada pada tingkat kebinatangan yang paling rendah, kebejatan akhlak yang paling parah, dan tidak ada manusia seburuk mereka sebelumnya. Mendengar seruan Nabi Luth, seruan seorang nabi Allah yang juga pernah didengar oleh kaum-kaum lain sebelum mereka, rakyat Negeri Sadom merasa terusik kesenangannya. Mereka tidak tinggal diam setelah mendengar seruan kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Luth. Mereka terus berfikir, mencari jalan bagaimana agar Nabi Luth tidak dapat mengumandangkan seruannya kembali. Ketika, mereka tengah duduk berfikir, tiba-tiba datang seorang perempuan tua menghampiri mereka. Sebenarnya, sudah lama perempuan tua itu mendengar rencana kaum Luth itu, dan ia tersenyum bangga mendengar rencana itu.
“Akan kutunjukkan kepada kalian, suatu lubang yang dapat menghalangi seruan Luth,” ujar perempuan tua itu dengan wajah penuh keyakinan.
“Lubang yang mana itu?” tanya mereka dengan keinginan yang penuh harap.
“Tidak akan kukatakan hal itu, kecuali aku mendapat sekeping perak sebagai upahnya,” sahut si perempuan tua.
Tak seorangpun dari keturunan kaum Luth itu yang merasa marah atau hairan mendengar ucapan perempuan tua yang terkenal mata duitan dan sifat halobanya itu. Salah seorang dari mereka memasukkan tangannya ke dalam poketnya; kemudian mengambil sekeping perak dan diberikannya kepada perempuan tua itu. Dengan senyum kemenangan, perempuan tua itu cepat mengambil dan menyembunyikan kepingan perak itu di dadanya.
“Kalian dapat membatalkan seruan Luth melalui isterinya!” Kata perempuan itu kemudian.
Terbelalaklah mata kaum Luth ketika mendengar ucapan itu. Mereka semakin mendekatkan telinga masing-masing ke mulut perempuan penipu itu dengan penuh harapan.
“Bagaimana caranya?” Tanya mereka serentak.
“Kalian harus bekerjasama dengan isteri Luth untuk menghentikan seruannya kepada kalian.”
Dengan kesal, salah seorang dari mereka berteriak. “Kami tidak ada urusan dengan isteri Luth!”
Dengan wajah marah, perempuan tua itu kembali berkata: “Aku lebih mengerti hal itu daripada kalian!”
“Kalau begitu,” sela salah seorang yang lain. “Apa peranan isteri Luth dalam hal ini?”
“Dengar baik-baik. Peranan isteri Luth sama seperti perananku bagi kalian sekarang ini,” jawabnya.
“Jadi, apakah kamu berharap agar isteri Luth dapat menunjuki kami, siapa orang-orang yang dapat memenuhi keinginan kami, sebagaimana yang engkau lakukan kini?” tanya salah seorang dari mereka.
Dengan kedua mata yang bersinar, disertai kegembiraan haiwani, perempuan tua berlalu sambil bergumam, “Ya... ya...”
Isteri Nabi Luth sedang menyelesaikan sebahagian pekerjaannya ketika terdengar pintu rumahnya diketuk orang. Segera ia berlari, membukakan pintu. Dan seorang perempuan tua tiba-tiba berada di hadapannya. Dengan tergopoh-gapah perempuan tua itu lalu berkata: “Hai, anakku, adakah seteguk air yang dapat menghilangkan dahaga yang kurasakan ini?”
“Silakan masuk dahulu,” jawab Wa’ilah, isteri Nabi Luth, dengan lembut.” Akan kuambilkan air untukmu.”
Perempuan tua itu kemudian duduk menunggu, sementara Wa’ilah masuk ke dapurnya. Tak lama kemudian, Wa’ilah kembali dengan membawa bekas yang penuh berisi air untuk tamunya itu. Dengan lahap, si perempuan tua segera meneguk habis air di bekas tersebut, dan kemudian melepas nafas dengan lega.
“Kami hidup bersama suamiku, Luth namanya, dan dua anak perempuanku,” jawab Wa’ilah.
Perempuan itu kemudian memalingkan wajahnya ke sekeliling rumah yang kecil itu, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan prihatin akan apa yang dilihatnya. Dengan wajah yang memperlihatkan kesedihan, perempuan tua itu berkata: “Aduhai, apakah kesengsaraan menimpamu, Anakku?”
“Aku tidak sengsara, bahkan rumah ini cukup bagi kami, dan aku mempunyai suami yang memberiku makan dan minum bersama kedua puteriku,” jawab Wa’ilah.
Perempuan tua penipu itu lebih mendekat kepada isteri Nabi Luth sambil berkata: “Dapatkah ruangan seperti ini disebut rumah? Dapatkah yang engkau teguk dan engkau rasakan ini disebut makanan atau minuman?”

Wa’ilah terpegun mendengar ucapan perempuan tuan itu. Dengan penuh kehairanan, ia kemudian bertanya. “Kalau begitu, apa yang selama ini kumakan dan kuminum?”
Cepat-cepat perempuan tua itu berkata: “Panggillah aku dengan sebutan ibu. Bukankah kedudukanku seperti ibu saudaramu?” Kemudian ia menyambung lagi. “Sesungguhnya semua ini adalah kemiskinan dan kesengsaraan hidup yang membawa kemalangan bagimu, hai anakku. Mengapa kamu tidak masuk ke rumah orang-orang kaya di antara kaummu. Tidakkah kamu melihat kehidupan mereka yang penuh kemegahan, kesenangan, dan kenikmatan...? Kamu berparas cantik, hai anakku. Tidak layak kamu membiarkan kecantikanmu itu dalam kemiskinan hina begini. Tidakkah kamu sedari bahawa kamu tidak mempunyai anak lelaki yang dapat bekerja untuk memberimu makan kelak apabila suamimu meninggal dunia?”
Wa’ilah, isteri Nabi Luth, mendengarkan dengan saksama semua ucapan perempuan tua itu. Ya, ucapan itu telah membuatnya terlena sambil merenung atap rumahnya. Sesekali ia perhatikan perempuan tua yang semakin mengeraskan suaranya yang penuh nada kesedihan dan kedukaan. Dalam lamunannya itu, tiba-tiba Wa’ilah merasakan pelukan perempuan tua itu di bahunya.
Ketika perempuan tua itu menghentikan pembicaraannya, isteri Nabi Luth memandang kepadanya sambil berusaha meneliti kalimat-kalimat yang baru didengarnya. Tetapi si perempuan tua tidak memberinya kesempatan untuk berfikir, bahkan ia mulai menyambung pembicaraannya dengan berkata: “Hai, anakku, apakah yang dikerjakan suamimu? Bagaimana hubungannya dengan penduduk Negeri Sadom dan kampung-kampung kecil di sekelilingnya?
Sesungguhnya orang-orang di sini menginginkan sesuatu yang dapat menyenangkan hati mereka sesuai dengan yang mereka kehendaki. Dan sesuatu yang dicarinya itu dapat menjadi sumber penghasilan dan kekayaan bagi orang yang mahu membantu mereka. Lihatlah! Lihatlah, hai anakku, kepingan-kepingan emas dan perak ini! Sesungguhnya emas dan perak bagiku adalah barang yang mudah kuperolehi. Aku menunjukkan kepada kaumku beberapa lelaki berwajah ‘cantik’ yang datang dari kota. Sedangkan kamu... di rumahmu sering datang beberapa pemuda dan remaja lelaki kepada suamimu.
Ya, suamimu yang seruannya diperolok-olok oleh kaum kita. Pekerjaan semacam ini sebenarnya tidak memberatkan kamu. Suruhlah salah seorang puterimu menemui sekelompok kaum kita dan memberitahu mereka akan adanya lelaki tampan di rumahmu. Dengan demikian, engkau akan memperoleh emas atau perak sebagai hadiahnya setiap kali engkau kerjakan itu. Bukankah pekerjaan itu amat mudah bagimu? Dengan itu, engkau bersama puteri-puterimu dapat merasakan kenikmatan sesuai dengan apa yang kalian kehendaki.”
Sambil mengakhiri ucapannya, perempuan tua itu meletakkan dua keping perak di tangan Wa’ilah, dan kemudian segera keluar. Isteri Nabi Luth duduk sambil merenungkan peristiwa yang baru terjadi itu tentang keadaan pekerjaan yang dicadangkan oleh si perempuan tuan. Dan... ia kebingungan sambil berputar-putar di sekitar rumahnya. Suara perempuan tua itu masih terngiang-ngiang di telinganya, sementara di tangannya terselit dua keping perak. Wa’ilah dibayangi keraguan apakah sebaiknya ia terima saja saranan perempuan tua itu. Tetapi, apa yang akan dikatakan orang nanti tentang dirinya jika hal itu ia lakukan; bahawa isteri seorang yang mengaku sebagai Rasul Allah dan menyerukan kebajikan, ternyata, menolong kaumnya dalam melakukan kebatilan.
Tiba-tiba datang suara yang membisikkan ke telinganya: “Perempuan tua itu telah menasihatimu. Ia tidak mengharapkan sesuatu kecuali kebaikan dan kebahagiaan bagimu. Kamu tidak bertanggungjawab atas apa yang dilakukan oleh kaummu. Dan lagi pekerjaan yang dicadangkan perempuan tua itu sama sekali tidak memberatkanmu. Kamu hanya memberitahu mereka tentang kedatangan tamu-tamu suamimu, Luth. Lekaslah... lekaslah... nanti akan kukatakan... lekas, supaya engkau memperoleh kekayaan dan kenikmatan... Cepatlah...!”
Dan tiba-tiba, tanpa ragu-ragu, Wa’ilah berkata: “Baiklah, kuterima...”
“Kalau begitu, selamat kuucapkan kepadamu,” demikian Iblis membisikkan kepadanya.” Sesudah ini engkau akan merasakan kenikmatan di dalam kehidupanmu...”
Nabi Luth kembali kepada penduduk desa yang berada di sekitar Sadom untuk menyerukan kebenaran Ilahi sesuai dengan perintah Allah kepadanya. “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan tercela itu, yang belum pernah diperbuat oleh seorangpun di dunia ini sebelum kalian? Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian bukan kepada wanita, bahkan kalian ini adalah kaum yang melampaui batas.”
Perlawanan penduduk Sadom terhadap dakwah kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Luth kepada mereka membuat kesedihan dan kedukaan di hati Nabi Luth sendiri. Betapa kaumnya tidak mahu menerima kebenaran dan tidak menghendaki diri mereka bersih dari perangai yang hina dan merosakkan itu.
Hari demi hari berlalu. Setiap isteri Nabi Luth melihat beberapa lelaki datang ke rumahnya, ia segera memberi tahu kaumnya tentang hal itu dan setiap kali berita yang dibawanya sampai kepada kaumnya si perempuan tua datang kepadanya dengan membawa sepotong perak seraya berkata: “Jika engkau selalu menolong kami, nescaya engkau akan dapatkan terus sekeping perak, sementara suamimu tidak dapat menyeru kepadanya.” Wajah perempuan tua itu tertawa seperti tawa syaitan, kemudian pergi...
Sementara itu, seruan Nabi Luth kepada kaumnya tidak menambah apa-apa kecuali perlawanan dan kesombongan. Mereka tetap selalu berpaling dari ajakan suci itu. Bahkan mereka terus-menerus melakukan perbuatan keji tatkala Nabi Luth memperingatkan akan datangnya seksa Allah atas mereka apabila mereka tidak mahu berhenti dari kesesatannya. Mereka malah menentang Nabi Luth dengan berkata: “Datangkanlah kepada kami azab dari Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Maka, Nabi Luth pun memohon kepada Allah, agar Allah menolongnya dari kaumnya.
Nabi Luth berdoa: “Ya, Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerosakan itu.”
(Al-Ankabut: 30)
Allah memperkenankan doa Nabi Luth as, dan mengutus Jibril as. untuk membinasakan mereka. Jibril datang ke Negeri Sadom dengan menyerupai dua orang lelaki yang tampan. “Dia (Luth) merasa susah dan sempit dadanya kerana kedatangan mereka. Dan ia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit.”
(Hud: 77)
Nabi Luth as. cemas memikirkan apa yang bakal diperbuat kaumnya jika mereka mengetahui kedatangan tamu lelaki yang berwajah ‘cantik’ di rumahnya. Bagaimana ia dapat mempertahankan dan memelihara mereka dari kemungkaran kaumnya? Ah, bukankah tidak ada yang mengetahui kedatangan mereka, kecuali dia sendiri, dan kedua puterinya?
Sebaliknya kedatangan kedua tamu Nabi Luth itu merupakan kesempatan bagi isterinya untuk menambah kepingan-kepingan perak yang biasa ia perolehi dari si wanita tua. Sekarang, ia harus mengutus seseorang kepada kaumnya untuk memberitahu mereka. Tetapi kedua puterinya sedang sibuk menyiapkan hidangan bagi kedua tamu ayahnya, atas perintah Nabi Luth. Kerana keinginannya yang mendesak, isteri Luth akhirnya memberi isyarat kepada salah seorang puterinya untuk mendekat. Kemudian ia membiisikkan beberapa kalimat ke telinga anak perempuannya itu. Sesaat kemudian, sang puteri segera keluar rumah untuk memberitahu kaumnya, sebagaimana biasa.
Di tengah-tengah kerumunan orang ramai anak Nabi Luth melihat seorang perempuan tua melambaikan tangan sambil mengisyaratkan panggilan kepadanya. Segera ia mendekati perempuan itu dan memberitahu tentang dua lelaki tampan yang datang ke rumahnya. Perempuan tua itu kemudian menyuruh ia cepat pulang, sementara kelompok lelaki menghampiri seraya bertanya: “Apakah yang terjadi? Apakah ada berita baru?”
Wajah si perempuan tua menampakkan senyum tipuan sambil berkata: “Kali ini tidak kurang dari empat potong emas harus kuterima.”
Dengan bersemangat kaumnya bertanya: “Apakah yang terjadi? Apakah ada yang istimewa?”
Perempuan itu berkata kepada mereka, sementara ia membuka matanya lebar-lebar disertai syaitan. “Kalian akan memperoleh apa yang kalian kehendaki, iaitu dua orang lelaki yang berwajah ‘tampan’.
Dengan wajah buas dan bernafsu, mereka bertanya dengan tidak sabar. “Di mana mereka? Di mana lelaki berwajah ‘tampan’ itu? “Berikan harta kepadaku terlebih dahulu, barulah kuberi tahu kalian!” Katanya.
Sebahagian dari mereka menyahut: “Wahai wanita tua, engkau yang tamak, tidak pernah kenyang!” Dan sebahagian yang lain berkata: “Inilah harta untukmu, tetapi cepat katakan, di mana lelaki yang berwajah ‘tampan’ itu?”
Setelah tangannya menggenggam emas, berkatalah perempuan tua itu kepada mereka. “Mereka ada di rumah Luth...”
Hampir-hampir kaumnya tidak mendengar ucapan perempuan tua itu dengan jelas. Tetapi, sesaat kemudian, mereka berlumba-lumba untuk segera datang ke rumah Nabi Luth. Masing-masing ingin memperoleh kepuasan dari dua lelaki ‘tampan’ yang ada di rumah Luth.
Sesampainya mereka di sana, didapati pintu rumah Nabi Luth tertutup. Segeralah mereka mengetuk keras sambil berteriak. “Bukakan, Luth bukalah pintu-pintumu! Kalau tidak, kami terpaksa akan memecahkannya!”
Isteri Nabi Luth mencuba menemui suaminya yang ternyata telah meninggalkan kedua tamunya di dalam kamar, sementara ia sendiri mendekati pintu rumahnya yang tertutup dan memisahkan dia dengan sekumpulan kaumnya. Isteri Nabi Luth mengintai dari balik tirai. Hatinya melonjak kegirangan. Sebentar lagi ia bakal memperoleh sepotong perak dari si perempuan tua, sesuai dengan kebiasaan yang telah berlangsung selama ini. Bahkan di samping itu, tanpa diketahuinya, ia mungkin bakal memperoleh pula sepotong emas sebagai bonus.
Teriakan kaum Luth bertambah keras dan garang. Mereka tak sabar dan ingin memecah pintu agar dapat masuk dan menemui tamu-tamu Nabi Luth. Apakah yang akan dikatakan oleh Nabi Luth atas tindakan kebengisan yang diperbuat oleh naluri haiwan kaumnya yang rendah itu? Nabi Luth pun berdiri terpaku; hanya pintu yang memisahkannya dari kaum durjana itu. Sesaat kemudian, Nabi Luth berkata kepada mereka demi menenangkan keadaan: “Hai, kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu. Maka, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan namaku di hadapan tamuku. Tidak adakah di antaramu seorang yang dapat menbezakan baik dan buruk.
Ya, orang-orang yang berakal ketika itu telah dihinggapi fikiran-fikiran haiwan yang rendah, sehingga nafsu mereka sulit dibendung. Luth kemudian kembali menegaskan permohonannya kepada kaumnya itu, sedangkan isterinya mengintip tidak jauh dari situ. Nabi Luth menawarkan kepada mereka untuk mengahwini puteri-puterinya, tetapi dengan serentak mereka menjawab: “Sesungguhnya engkau telah tahu bahawa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.”
Sampai di sini, dialog antara Nabi Luth dan kaumnya terputus. Nabi Luth kemudian berfikir, apakah yang akan ia lakukan jika kaumnya memecah pintu rumahnya dan masuk untuk melampiaskan nafsu syaitannya kepada dua orang tamunya. Ia berdiri kebingungan, sedangkan isterinya memandangnya dengan pandangan khianat.
Tiba-tiba tamu Nabi Luth berkata kepadanya: “Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu; sekali-kali mereka tidak dapat mengganggu engkau.” Kalau begitu, tamu-tamu Nabi Luth adalah utusan-utusan Allah yang datang untuk menimpakan azab kepada penduduk Negeri Sadom yang berbuat kerosakan itu.
Mendengar semua itu, isteri Nabi Luth merasa khuatir, kerana ia akan gagal memperoleh harta yang selalu diingininya itu. Kebatilan dan pelakunya memang tidak akan pernah kekal, dan kini seksa sedang menghampiri mereka. Berkata utusan-utusan Allah itu kepada Nabi Luth: “Bukakan pintu, dan tinggalkan kami bersama mereka!” Maka, Nabi Luth pun membuka pintu rumahnya. Isteri Nabi Luth merasa cemas tatkala melihat serombongan kaumnya menyerbu masuk dengan penuh kegilaan, dan segera menuju ke arah tamu-tamu Nabi Luth.
Ketika itulah, Jibril menunjukkan kelebihannya. Ia mengembangkan kedua sayapnya dan memukul orang-orang durjana itu. akhirnya, mata mereka, tanpa kecuali, buta seketika. Dengan berteriak kesakitan, mereka semua menghendap-hendap dan bingung, kemana mereka harus berjalan.
Bertanyalah Nabi Luth kepada Malaikat Jibril: “Apakah kaumku akan dibinasakan saat ini juga?” Malaikat Jibril memberitahu bahawa azab akan ditimpakan kepada kaum Nabi Luth pada waktu Subuh nanti. Mendengar itu, Nabi Luth segera berfikir, bukankah waktu Subuh sudah dekat.
Jibril memerintahkan Nabi Luth agar pergi dengan membawa keluarganya pada akhir malam nanti. Semua keluarga Nabi Luth pada malam itu pergi bersamanya ke luar kota, kecuali Wa’ilah. Isterinya itu bukan lagi termasuk keluarganya yang beriman kepada risalah Allah yang dibawanya. Sebaliknya, Isteri Nabi Luth justeru telah membantu orang-orang yang berbuat kerosakan, dan ia harus menerima akibatnya. Maka, turunlah azab atas dirinya, bersama semua kaum Nabi Luth yang ingkar, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam Kitab Suci Al-Quran: “Maka, tatkala datang azab Kami, Kami balikkan (kota itu), dan Kami turunkan di atasnya hujan batu, (seperti) tanah liat dibakar bertubi-tubi. Diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.”

Maha Benar Allah lagi Maha Agung.

Senin, 19 Desember 2011

agenda ramadhan ponpes


SAMBUTAN  BUYA PIMPINAN PONDOK
الحمد لله الذي انزل السكينة فى قلوب المؤمنين ليزدادوا ايمانا مع ايمانهم, اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله الذي لا نبي بعده اما بعد . اللهم صل على سيدنا  محمد وعلى ال سيدنا محمد
Alhamdulillah  dengan sifat rahman dan rahimNYA , ALLAH telah melimpahkan satu bulan keberkahan bagi umat islam, dengan bulan ini umat islam berharap diampunkan dosanya dan dijadikan umat yang selalu berada dalam lindunganNYA,
Salawat dan salam kita mohonkan kepada allah semoga tercurah kepada nabi kita syaiidina Maulana Muhammad Saw yang merupakan panutan bagi setiap umat islam, 
Program ramadhan merupakan suatu bentuk pengalaman praktis bagi santriwan/santriwati pondok pesantren madinatul munawwarah di tengah-tengah masyarakat tempat santri berada dalam rangka penerapan teori dakwah yang telah dituntut selama ini di pondok.
Bulan ramadhan ini merupakan evaluasi terhadap setiap diri umat islam tentang apa yang telah dilakukan dua belas bulan sebelumnya, bulan ramadhan juga merupakan ajang latihan menempa diri dalam membina ibadah dan kedisiplinan, mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamabaNYa yang selalu dikaruniai oleh ALLAH kesehatan dan kesempatan untuk mengguras lautan hikmah bulan ramadhan dan memperkokoh tonggak silaturahmmi Dengan adanya program ramadhan ini pihak sekolah mengharapkan kepada santriwan terus berlatih dan semangat dalam menjalankan program ini, kepada orang tua kami harapkan adanya dukungan moril terhadap perkembangan santri kita dan kepada masyarakat kami harapkan motivasi serta kesempatan bagi santri untuk menerapkan ilmunya dalam bentuk ceramah, pidato, protokol, azan, imam dan lain-lain. Kalau ada kekurangan dari santri kami mohonkan disampaikan kepada kami
1
 
Atas nama Pimpinan Pondok kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia program ramadhan santriwan/santriwati tahun ajaran 2011/2012 yang telah membuat Buku Ramadhan Santri Pondok Pesantren Madinatul Munawwarah Bukittinggi tahun 2011, untuk menjadi pegangan setiap santri munawwarah selama bulan ramdahan, semoga allah melimpahkan segenap rahmat dan lindungannya.

Bukittinggi,juli 2011.


Drs S Y A F I ’ I
NIP:19610507 2006041005



2
 

بِرُاْلوَالِدَيْنِ
رَئِيْسُ اْلَجلَسَة اْلَكرِيْمِ \ رَئِيْسُ الجَلَسةِ الْكَرِيْمَةِ
الخطباء المكرمون \ الخاطبات المكرمات
المستمعون المحبوبون \ والمستمعات المحبوبات

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله ذي السلطان العظيم له الفضل والسلطان والعطاء. احمده واشكره على نعمه واعوذ به من اسباب سخطه ونقمه, اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا رسول عبده ورسوله اللهم صل على عبدك ورسولك محمد وعلى اله وصحبه من اهتدى اما بعد !!
فى هذا الوقت سأتكلم امامكم جميعا بعنوان
3
 
بر الوالدين
إن ممن لا ينسى ولا يتناسى عنه من الناس فى هذه الدنيا هو الوالدين أو الأبوين. ولا يعصي الوالدين الا ذو قلب خشين مريض إن الله ورسوله والعلماء من لدن أدم من يومنا هذا قد نبهوا على ضرورة توقير الوالدين وبرهما فلقد نص القران فى ايات ولفظ الرسول فر احادثه كما ولقد الح العلماء توكيد هذا فى شتى الوقائع والحوادث .
ايها الإخوة السعادات
4
 
إن بر الوالدين فريضة على كل مسلم ومسلمة فقد جعل الله عزوجل قرين توحيده وعبادته اذ قال : وقضي ربك ان لا تعبدوا الا اياه وبالوالدين احسانا. فواجبتنا نحو والدينا ان نعاملها معاملة حسنة ونقول لهما قولا معروفا, ولا يجوز لنا ان تنهر هما ونقول لهما قولا قبيحا. ثم ..........لماذا وجب علينا ان نبر والدينا. لأنهما اوجدهما وربيانا تربية حسنة منذ صغرنا حتى كبيرنا. فأمنا حملتنا تسعة اشهر فى بطنها وارضعتنا حولن ولا حظتنا ودافعت عنا الأذى واعدت لنا طعاما وشرابا, فهي تسهر لنومنا وهي تفصل حياتنا على حساب تعبها . فأما ابونا ........فبحث لنا عن المال والرزق الحلال منذ طلوع الفجر الصادق إلى غروب الشمس يصارع شدة الحر والبرد, يوجه المطر والجفاف دون مبالات بالمطر الذي بلل جسمه والحر الذي حرق جلده .
ايها الأخوة !
5
 
كيف نبر والدينا ونحن منهم بعيدون ؟ على اسهل الجواب ان نعمل كما يعظه لقمان لإبنه وذالك الا تشرك بالله لأن الشرك لظلم عظيم والشرك هو جعل الأنداد لله مع الإيمان بقوتهم وقدرتهم. واذا امرنا الوالدين بالشرك فلن نطيعهما ولكن الصحبة والمعاملة لابد ان يكون جميلة. ثم اتباع الأبرار المنيبين الى الله بإمتثال اوامره واجتناب نواهيه ثم ان نقيم الصلوات الخمس بكمال الإخلاص وتمام الخضوع  والخضوع والأملر بالمعروف والنهي عن المنكر اي بالمعاملة الحسنة نحو غيرنا فلا نكلفهم ما يشق عليهم. والأمر بالمعروف هو ان نعمر اصحابنا ما يؤدي على نجاحهم فى دنياهم واخراهم كالأمر بطاعة النظام. واما النهي عن المنكر فهو ان ننه اصحابنا الذين يرتكبون عن الذنوب والذين يتكاسلون يستهنون النظام فنذاكرهم قبل فوات الأوان
 أضيف الى ذالك ان نصبر على ما اصابنا لأن الصبر من اعظم الأمور لأننا لن نكون فى خلوة عن المشكلات لأن من صبر ظفر وزيادة على ذالك إذا لقينااصحابنا فى الطريق فعلينا السلام ونجعل انفسنا اصدقاء لهم
وان نقصد فى المشي وان نغض الأصوات واذا مشينا فلا نمشي مشية المتكبر واذا كنا نتكلم بغض الأصوات .
إخواني المحبوبون !
اذا طبقنا نصائح لقمان لإبنه بحياتنا فإن شاء الله نكون اولادا صالحين يفرح بنا والدنا كما تريد المدرسة من غرضه فى التربية. جعلت الأولاد عالمين صالحين مخلصين .
ربما كفيت هنا كلامي ان وجدتم مني الخطئات  انا اطلب منكم العفو . واقول لكم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


6
 

طلب العلم
حضرة رئيس المحاضرة
ايها الخطباء المخترمون
ايها المستمعون المحبون
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله , رفع الدرجات, أولى العلم فى الرفعة العالية, مسهل لطالب العلم إلى رضاه والجنة, باعث الملائكة لطالب العلم من الرحمة والسكينة, والصلاة والسلام رحمة للعالمين, سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم أكمل الناس خلقا وأعظمهم فضلا, وأجلهم قدرا, صلوات الله وتسليماته عليه وعلى أله وصحبه الهداة المهديين والعز الميامين ومن اقتفى أثره واتبع هديه بإحسان الى يوم الدين وبعد :
ايها الحاضرون والحاضرات  !
7
 
اولا هيا بنا نشكر الله العظيم الذي قد هدانا إلى صراطه المستقيم  , والذي انعمنا بنعم كثيرة حتى نستطيع ان نجتمع فى هذا المكان المبارك بلا حائل ولا عائق ثم نصلي ونسلم على محمد خاتم الأنبياء والمرسلين .
وثانيا لا أنسى ان اقول شكرا كثيرا الى رئيس الجلسة الذي قد أعطانى فرصة ثمينة لأن أجرب نفسي ان اتكلم باللغة العربية , وفى هذه المناسبة سأتحدث تحت العنوان : طلب العلم
أيها المستمعون رحمكم الله !
إعلموا ايها الإخوة والأخوات أن طلب العلم واجب لكل مسلم فى هذه الدنيا, سواء كان ذكر كانوا او نساءا . وكما قال النبي ص . م : طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة. لماذا افترض النبي على كل مسلم ؟ لأن العلم مهم جدا لحياتنا هذه, مع العلم نستطيع ان نخضع جميع المخلوقات فر هذه الدنيا كأخضع الجبل, والسماء, والشمس, والقمر, والحيوان الوحشة, والنباتات والأفلاق وما إلى ذالك. ومع العلم نستطيع ان نكون رئيسا بين المخلوقات, ونكون احسن الخلق لعلومنا. وإذا ما عندنا علوم فنحن كمخلوق غيره, سنكون جاهلا لا نعرف شيئا. لذالك نكون من اقبح المخلوق بين المخلوقات .
ايها الإخوة رحمكم الله
8
 
كما ذكرت سابقا , ان العلوم مهم جدا لحياتنا فر هذه الدنيا , لأن لنيل السعادة لا يمكن إلا مع العلم, سواء كانت سعادة الدنياوية أو السعادة الأخراوية. لذالك من كان يريد ان يكون سعيد فى الدنيا والأخرة فوجب عليه ان يجتهد فر طلب العلم, وهاذا مناسبا وملائما بما قاله النبي ص . م فر حديثه : من اراد الدنيا فعليه بالعلم ومن اراد الأخرة فعليه بالعلم , ومن ارادهما فعليه بالعلم . ومن هاذا الحديث نستطيع ان نستنبط, ان العلم مهم لحياة الناس. لأن العلم سينال الناس درجة عالية عند الله, والله سيرفع العالم درجات  , كما قاله فر كتابه الكريم : يرفع الله الذين أمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات  (المجادلة 11)
ايها الخاضرون رحمكم الله !
ولأن العلم ايضا , الذي يفرق بين الناس والحيوان , والله اشار فى القران , ان العم مهم لحياة الناس حتى كما ان الوحي الأولى يبتدئ بكلمة إقرأ, وهذا يدل على ان العلوم لا يمكن نيله إلا بالقراءة .
9
 
نحن من الإنسان عندنا عقل, وبالعقل نستطيع ان نطلب العلم, الذي يفرق بيننا وبين الحيوان, ان مع الحيوان والنبات لا يغدر ان يطلب العلم, لأنه لا يملك العقل. هذا هو السبب ان الإنسان اعلى درجته من المخلوقات غيره. نحن نستطيع ان نتصور, اذا ليس لنا علوم , فسواء جرجتنا مع مخلوق اخرى, او بل اضل منهم, انظر الى مجنون الذي ضاع عقله, أنه اذل من الحيوان.
ايها الإخوة والأخوات !
ان طلب العلم لا يحدد به الأماكن والأوان, كمن قال النبي صلى الله عليه وسلم : أطلبوا العلم من المهد الر اللحد. اما الحديث دل على ان طلب العلم بالأماكن مطابقا بحديث البوي : اطلبو العلم ولو بالصين !
ربما كفيت هنا خطتي , وإن وجدتم مني الأ خطاء والنقائص اطلب منكم العفو كثيرا. وان وجدتم الصواب فإنما هو من عند الله عز وجل, واخيرا اقول لكم إلر اللقاء .
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته



10
 

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN
الحمد لله  الحمد لله الذي ارسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا , اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله الذي لا نبي بعده اما بعد . اللهم صل على سيدنا  محمد وعلى ال سيدنا محمد

Awal kalam untaian kata, tiada kata  yang pantas terdetik di hati kita, yang terucap oleh lisan kita selain kalimat tahlil dan tahmid  yang tertuju kepada zat yang maha pengasih tanpa pilih kasih dan zat yang maha penyayang yang sayangnya tiada terbilang,  kepada hamba-hambanya yang berjalan diatas rel keimanan, dan jalan lurus ketaqwaan, yakni Allah Azza Wajalla. Jika kita hitung nikamat Allah tidak satupun manusia yang dapat menghitungya walaupun air laut kita jadikan sebagai tinta dan ranting-ranting kayu kita jadikan sebagai penanya dan daun-daun kita jadikan sebagai kertasnya, niscaya  nikmat Allah mustahil kita hitung.
Shalawat beriringan salam berangkaian do’a buat putra padang pasir yang jauh diseberang sana yang bergelarkan al’amin dan yang ber titelkan habibullah ya rasulullah.   kepada pahlawan revolusi yang takkenal korupsi, jendral yang tak kenal dengan pangkatnya, raja yang takkenal dengan istana.
Ma’asral muslimin wal muslimat rohima kumullah
Allah swt telah memberikan tuntunan bagi kita berupa agama islam, sebagai pedoman hidup yang mempunyai fondasi-fondasi yang lebih dikenal dengan rukun islam yang lima, sebagai mana hadist nabi…
11
 
بُنِيَ الْإِسْلاَم عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ اَنْ لَاإِلَهَ إِلَا اللهُ وَاَنَ مُحَمَدُا رَسُوُل اللهِ, وَإِقَاِم الصَلَاةِ وَإِيْتَاءِ الزَكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحِجُ الْبَيْتَ مَنِ اسْتطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلَا
“islam didirikan atas lima dasar yakninya mengucapkan sahadat bahwasanya tiada tuhan melainkan allah dan nabi Muhammad itu utusan allah, menegakkan sholat, membayarkan zakat, berpuasa di bulan ramadhandan  naik haji bagi yang mampu ”
jikalau diantara yang lima itu tidak kita jalankan sebagai mana mestinya maka sudah barang tentu islam tidak akan bisa berdiri kokoh diatas permukaan bumi ini, segala puji bagi allah SWT pada saat sekarang ini kita sudah bertemu dengan rukun islam yang ke tiga(3) yakninya berpuasa pada bulan ramadhan.(asshaumu romadhon)
Dengan sifat rahman dan rahim-NYA Allah, kita masih diberikan kesempatan untuk hidup dan bertemu dengan bulan yang penuh magfirah ini yakninya bulan ramadhan, bulan ramadhan disebut juga bulan pembakar dosa dimana pada bulan ini seluruh pintu-pintu surga dibuka pintu neraka ditutup rapat dan syaitan-syaitan dibelenggu. Kita sangat pantas untuk mengucapkan syukur kepada Allah karena kita masih diberi kesempatan untuk membakar dosa-dosa yang telah kita lakukan selama 11 bulan ini. Dahulu nabi pernah mengatakan “andaikan umatku tau keutamaan yang terdapat pada bulan ramadhan  ini maka pasti umat ku meminta kepada allah supaya 12 bulan ini dijadikan semuanya menjadi bulan ramadhan.
Kaum muslimin wal muslimat rohima kumullah…
Puasa ramadhan merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap muslim sesuai dengan firman allah SWt (Qs. Albaqarah : 183)

12
 
$ygƒr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6øn=tæ ãP$uÅ_Á9$# $yJx. |=ÏGä. n?tã šúïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÑÌÈ
 Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
Didalam surat ini allah telah terang-terangan memerintahkan kepada setiap muslim untuk berpuasa pada bulan ramadhan, Karena bulan ramadhan merupakan salah satu cara untuk membuktikan diri kita apakah kita benar-benar beriman kepada allah atau malah sebaliknya karena salah satu ciri-ciri orang beriman ialah selalu memenuhi kewajiban kepada allah SWT meskipun harus memikul resiko dan tanggung jawab yang berat, kita sama-sama mengetahui berpuasa bukan pekerjaan mudah melainkan pekerjaan yang berat karena mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari kita harus menahan haus dan lapar, tidak itu saja malahan hawa nafsu juga harus ditahan, sesuai dengan firman allah…
(#qè=ä.ur (#qç/uŽõ°$#ur 4Ó®Lym tû¨üt7oKtƒ ãNä3s9 äÝøsƒø:$# âÙuö/F{$# z`ÏB ÅÝøsƒø:$# ÏŠuqóF{$# z`ÏB ̍ôfxÿø9$# (
 “dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitunya fajar”
Ma’asral muslimin wal muslimat rohima kumullah..
Tetapi betapa pun susahnya kita melewati itu semua jikalau kita melakukannya dengan ikhlas dan memelihara puasa kita dari hal-hal yang akan dapat mengurangi pahala puasa kita maka insallah allah SWT menyediakan untuk kita pahala yang berlipat ganda yang tidak ada dibulan – bulan yang lain,  bayangkan saja jikalau kita melakukan ibadah sunat pada bulan ramadhan sama hal nya kita melakukan ibadah wajib pada bulan-bulan lain, bahkan allah akan membalasi pahala puasa kita dengan tidak terhingga sebagai mana yang tersirat pada nabi yang mashur:
13
 
كُلُ عَمَلِ ابْنِ اَدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرَ اَمْثَالِهَا اِلَى سَبْعَتِمِائَةِ ضَعْفٍ قاَلَ اللهُ تَعَالَى إلَا الصَوْمُ فَإِنَهُ لِي وَاَنَا اَجْزِيْ بِهِ
Setiap amal anak adam berlipat pahalanya, satu kebaikan berlipat sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, Allah SWT berfirman, ‘kecuali puasa karena puasa hanyalah untuk-ku dan aku (Allah) sendiri yang membalasnya”
Begitu banyak keutamaan-keutamaan yang disediakan oleh allah bagi hambanya yang mau melaksanakan puasa pada bulan ramadhan dengan ikhlas semata-mata mengharapkan ridho allah bukan karena yang lain, ada 2 macam kebahagian yang akan diterima bagi orang-orang yang berpuasa.
1.      Akan bertemu dengan Allah pada hari akhir nanti
2.      Kebahagian yang tak terkira sewaktu berbuka puasa.
selain itu wahai kaum muslimin berpuasa juga bisa melatih diri kita baik jasmani maupun rohani, dalam bidang kerohanian kita bisa melatih diri untuk menjadi orang yang sabar, kemudian dalam bidang jasmani kita dapat melatih diri untuk berpola hidup sehat karna puasa itu seperti yang dikatakan hadist nabi: ‘’shumu tashihu’’ puasa itu menyehatkan.
ntuk itu wahai kaum muslimin marilah kita semua menjalani bulan yang penuh berkah ini dengan sekuat tenaga dan menjaga seluruh hal-hal yang bisa merusak pahala puasa, supaya bulan ramadhan tahun ini bisa membuat pribadi kita menjadi lebih baik dan bisa lebih mendekatkan diri kita kepada allah. Maka dari itu kita tingkatkan ibadah puasa dibulan rhomadhan ini supaya kita mendapatkan gelar la’allakum tattaqun    (menjadi orang2 yang bertaqwa)


14
 

MENYONSONG NUZUL QUR’AN


الحمد لله  الحمد لله الذي ارسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا , اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله الذي لا نبي بعده اما بعد . اللهم صل على سيدنا  محمد وعلى ال سيدنا محمد

Awal kalam untaian kata, tiada kata  yang pantas terdetik di hati kita, yang terucap oleh lisan kita selain kalimat tahlil dan tahmid  yang tertuju kepada zat yang maha pengasih tanpa pilih kasih dan zat yang maha penyayang yang sayangnya tiada terbilang,  kepada hamba-hambanya yang berjalan diatas rel keimanan, dan jalan lurus ketaqwaan, yakni Allah Azza Wajalla. Jika kita hitung nikamat Allah tidak satupun manusia yang dapat menghitungya walaupun air laut kita jadikan sebagai tinta dan ranting-ranting kayu kita jadikan sebagai penanya dan daun-daun kita jadikan sebagai kertasnya, niscaya  nikmat Allah mustahil kita hitung.
Shalawat beriringan salam berangkaian do’a buat putra padang pasir yang jauh diseberang sana yang bergelarkan al’amin dan yang ber titelkan habibullah ya rasulullah.   kepada pahlawan revolusi yang takkenal korupsi, jendral yang tak kenal dengan pangkatnya, raja yang takkenal dengan istana.
Ma’asral muslimin wal muslimat rohima kumullah
15
 
Ibadah puasa pada bulan ini telah kita laksanakan dalam dua minggu, berarti sekarang kita berada dalam suasana Nuzulul Qur’an yaitu memperingati turunya al-Quran. peringatan ini bagi kita kaum muslimin amat penting karena kita memperingati pristiwa besar yang terjadi pada sekitar pada abat 15 abat yang lalu. Pristiwa besar yang membawa pandangan-pandangan baru dari umat manusia terhadap alam semesta, derajad manusia dan pri kemanusiaan dan tata pergaulan hidup manusia.
Kita memperingati Nuzulul Qur’an, karena kita berkeyakinan bahwa al-quran yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya rahmad terbesar kepada umat manusia diseluruh alam. Sebagai mana firman allah dalam alquran (Qs-Albaqarah :185 )
ãöky­ tb$ŸÒtBu üÏ%©!$# tAÌRé& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# Wèd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3yßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4 ÇÊÑÎÈ
beberapa hari yang ditentukan itu adalah bulan ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan permulaan al-quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil”
Dalam firman allah yang lain (Qs al-Anfal :41)
bÎ) óOçGYä. NçGYtB#uä «!$$Î/ !$tBur $uZø9tRr& 4n?tã $tRÏö6tã tPöqtƒ Èb$s%öàÿø9$# tPöqtƒ s)tGø9$# Èb$yèôJyfø9$#
“ jika kamu beriman kepada allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba kami Muhammad dihari furqhan, yaitu hari yang bertemunya dua pasukan”
Ma’asral muslimin rohima kumullah
16
 
Yang dimaksud dengan hari bertemunya dua pasukan itu adalah hari bertemunya tentara islam dengan musrik khurais dalam pertempuran perang badar, yang terjadi pada hari jumat tanggal 17 ramadhan tahun ke-2
hijriah, sedangkan hari furqhan itu ialah hari permulaan diturunkan al-quran. Maka kedua hari itu berstu sifatnya yakninya sama-sama hari jumat tangal 17 ramadhan, walaupun tidak dalam satu bulan. Ayat yang mula-mula diturunkan ialah surat al-alaq ayat 1-5 dan setelah itu allah menurunkan ayat selanjutnya yakninya surat al-Mudatsir ayat 1-5.
Alquran diturunkan kepada nabi Muhammad SAW ketika beliau berada di gua hirak pada malam jumat bertepatan pada tanggal 17 ramadhan tahun ke-41 hari kelahiran beliau atau pada tanggal 6 agustus 610M , kebanyakan ulama menetapkan bahwa hari penghabisan turunya al-qur’an ialah hari jum’at 9 dzulhijjah tahun 10H atau tahun 63 dari kelahiran nabi,
Kaum muslimin rahima kumullah
Kalau kita sekarang berbicara tentang nuzulull quran sangat wajarlah bagi kita sebagai hamba allah secara khusuk dan rendah hati menghayati suasana turunya al-quran dan menjadikan al-qur’an sebagai pedoman hidup baik untuk dunia maupun akhirat, maka dari itu selama bulan ramadhan ini kita harus memperbanyak membaca al-qur’an, memperbanyak kebaikan, dan ibadah, sholat sunat serta memperbanyak istigfar, bacaan sholawat untuk nabi Muhammad SAW, dengan harapan supaya kita menemukan yang namanya lailatur khaddar yaitunya suatu malam yang bagi siapa saja mengajukan permohonannya pada malam tersebut akan dikabulkan oleh allah SWT sebagai mana hadist nabi :
مَنْ قَاَم لَيْلَةَ اْلقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحُتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا َتَقَدَم مِنْ ذَنْبِه
17
 
barang siapa melaksanakan sholat malam turunya qhadar karena iman dan mencari pahala allah niscaya semua dosanya yang sudah lewat akan diampuni oleh allah SWT”
Berkenaan dengan nuzulul quran tak luput kita berbicara tentang alquran nul karim, alquranul karim adalah buku undang-undang yang memuat hokum-hukum islam. Al-quran merupakan sumber yang melimpahkan kebaikan dan hikamh pada hati yang beriman serta al-quran merupakan sarana paling utama untuk mendekatkan diri pada allah SWt dengan membacanya dan merenungkan makna-makannya dalam hadist Abdullah bin Mas’ut ra  berkata:
اِنَ هَذَا اْلقُرْاَنَ مَأْدَبَةُ اللهِ فَاقْبَلُوا مَأْدَبَتَهُ مَاسُتَطَعْتُمْ . إِنَ هَذَا الْقُرْاَنَ حَبْلُ اللهِ وَالنُوْرُالمُبِيْنِ وَالشِفَاءِ اَلنَافِعِ عصْمَةٌ لِمَنْ تَمَسَكَ بِهِ 
“ sesungguhnya alquran ini adalah jamuan allah maka terima lah jamuanNYA itu semapu kalian. Sesungguhnya al-quran itu adalah tali allah, cahaya terang dan obat yang bermanfaat, merupakan penjaga bagi orang yang berpegang kepadanya”
Dari hadist ini diketahui bahwa kita dianjurkan untuk
1.      Membaca dan merenungkan al-quran
2.      Mengamalkan isi kandungan al-quran
3.      Tidak menjadikan sumber pencarian apalagi alat memperoleh kekayaan
Kaum muslimin wal muslimat yang berbahagia
Islam adalah agama amal sedangkan al-quran merupakan patokan dalam beramal. Amal itu akan sempurna dan dihayati apabila seluk beluknya dikuasai karena itu beramallah menurut alquran jika kita ingin hidup berbahagia didunia dan diakhirat, nabi SAW bersabda:
خَيرْكُمْ مَنْ تَعَلَمَ الْقُرْانَ وَعَلَمَهُ (رواه البخاري ومسلم )
18
 
yang paling baik diantaramu ialah orang yang mempelajari al-quran dan mengajarkanya (Hr Bukhari dan Muslim)
Ada sebuah tamsil yang menggambarkan kedudukan manusia dan hubunganya dalam al-quran kita mengetahui dikalangan manusia ada yang membaca al-quran dan mengamlkan isinya itulah orang mukmn sajati yang oleh nabi Muhammad SAW diumpamakan dengan “al-rutujjah” yaitu buah yang manis rasanya harum baunya dan indah warnaya. Jadi orang yang membaca al-quran sekaligus isinya mengeluarkan wangi yang semerbak karena orang-orang yang mendengarkanya dapat mengambil manfaat dari apa yang didengarkanya, kita juga melihat dari kalangan manusia ada juga yang membaca saja tetapi tidak mengmalkanya maka  orang ini disebut orang munafiq, rasullah SAW mengumpamakan rang ini dengan buah :Raihanah” yaitu buah yang berbau wangi tetapi rasanya pahit. Demikian lah keadaan orang munafiq yang lahirnya kelihatan baik tetapi hakikatnya jelek.
Kaum muslimin walmuslimat yang dirahmati allah
Maka dari itu dengan kita peringati malam nuzul quran ini marilah kita jadikan alquran ini sebagai petunjuk kejalan yang lebih lurus dan marilah kita tingkatkan motifasi kita untuk membaca al-quran, memahami serta mengamalkannya dengan tujuan supaya kita mendapatkan pahala yang besar dari allah SWT.











19
 


20
 



SURAT TANDA TELAH MELAKSANAKAN KEGIATAN RAMADHAN
NAMA                  :
KELAS                    :
NEGERI ASAL     :
NO
HARI TANGGAL
TEMPAT
JENIS KEGIATAN
JUMLAH RP.
TANDA TANGAN
PENGURUS
ORANG TUA

1









2









3









4









5









`6








7









8









9









10









11









12










13









14









15